Rabu, 07 Mei 2014

strategi mengatasi konflik



Di dalam suatu organisasi konflik memang tidak bisa di hindari, karena di dalam suatu organisasi tersebut terdiri dari banyak individu-individu yang mempunyai pola pikir yang berbeda-beda. Selain itu adapun penyebab dari adanya suatu konflik ialah, batasan pekerjaan yang tidak jelas, hambatan komunikasi, dan standar peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal serta adanya harapan yang tidak terwujud.
Dalam menindaklanjuti dari konflik tersebut agar tidak terjadi konflik yang berkelanjutan yang disertai dengan kekerasan, maka memerlukan strategi yang di perlukan yaitu :
·         Memotivasi diri dengan cara menganggap bahwa konflik tersebut merupakan suatu cara atau jalan untuk menuju yang lebih baik
·         Dengan adanya konflik, maka kita sebagai leader harus mampu menjadi pendengar yang baik, kemudian memahami apa yang menjadi penyebab konflik, setelah itu  menyikapi dengan cara mengambil keputusan yang bijak atas permasalahan tersebut demi tercapainya tujuan bersama
·         Menganggap bahwa dengan adanya konflik maka menghidupkan kembali norma-norma yang lama dan menciptakan norma-norma yang baru.

Rabu, 23 April 2014


Kepemimpinan adalah hubungan yang ada di dalam diri seseorang / pemimpin untuk mempengaruhi kegiatan yang di organisir dalam suatu kelompok, yang mengarah pada pencapaian tujuan bersama.
Seorang leader yang baik adalah seorang leader yang beretika dan berfilsafat. Beretika dan berfilsafat yang dimaksud adalah :
1.      memberikan dan menunjukan cara yang tepat dalam bertindak
2.      Bersifat relative / terjadi keragaman dalam penafsiran
3.      Harus memiliki kepandaian dalam mengambil keputusan dalam situasi apapun
Selain itu, sifat yang sebaiknya dimiliki seorang pemimpin menurut pendekatan sifat adalah :
1.      Takwa
2.      Sehat
3.      Cakap
4.      Jujur
5.      Tegas
6.      Setia
7.      Berani
8.      Berilmu
9.      Efisien  
-           Disiplin
Apabila seorang leader tersebut sudah memiliki sifat-sifat yang telah di sebutkan di atas, hendaknya di aplikasikan pada perilaku kepemimpinan situasional. Ada empat model pada teori kepemimpinan situasional yaitu :
1.      Model Kepemimpinan Kontingensi Fiedler
2.      Variabel Situasional
3.      Gaya Kepemimpinan
4.      Instrumen LPC

·         Model Kepemimpinan Kontingensi Fiedler
Tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu.
·         Variabel Situasional Fielder
Mendefinisikan kesukaan sebagai batasan dimana situasi memberikan kendali kepada seorang pemimpin atas para bawahan. Tiga aspek situasi yang dipertimbangkan meliputi: • Hubungan pemimpin-anggota • Kekuasaan posisi • Struktur tugas
·         Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan menurut Fiedler ada dua : • Orientasi pada tugas • Orientasi pada hubungan antar anggota
·         Pengertian Path Goal Theory (Jalan Tujuan) Adalah suatu model kepemimpinan yang dikembangkan oleh Robert House yang menyatakan bahwa kepemimpinan yang efektif adalah menggunakan dominasi, memilih keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas tinggiuntuk meningkatkan karismatiknya
·         Gaya Kepemimpinan Path Goal Empat perbedaan gaya kepemimpinan dijelaskan dalam model pathgoal sebagai berikut (Koontz et al dalam Kajanto, 2003): • Kepemimpinan Pengarah (directive leadership) • Kepemimpinan Pendukung (supportive leadeship) • Kepemimpinan Partisipatif (participative leadership) • Kepemimpinan Berorientasi Prestasi
·         Faktor Situasional Path Goal Theory Dua faktor situasional yang diidentifikasikan kedalam model teori path-goal, yaitu: personal characteristic of subordinate and environmental pressures and demmand (Gibson, 2003): • Karakteristik Bawahan • Karakteristik Lingkungan

Senin, 14 April 2014

Komunikasi dalam Kehidupan Manusia



Manusia sebagai makhluk sosial dalam hal ini  terkandung maksud bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian tentu nya membutuhkan individu lainnya dalam kehidupannya. Secara kodrat nya manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antar manusia berlangsung dalam bentuk komunikasi. Bisa di artikan bahwa komunikasi adalah syarat kehidupan manusia. Karna tanpa komunikasi dan interaksi,  kehidupan manusia tidak benar-benar hidup. Dua orang atau lebih dapat dikatakan berinteraksi apabila adanya aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi inilah yang dinamakan komunikasi. Burgon dan Huffner (2002) dalam bukunya yang berjudul HUMAN COMMUNICATION, mengemukakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses pemikiran berupa seleksi informasi (kognitif), menilai atau mempersepsikan pengalaman (afektif) dan bertindak balas terhadap informasi yang di sampaikan tersebut (psikomotorik). Dari definisi tersebut, dapat diketahui juga bahwa komunikasi ditujukan untuk proses memberikan informasi. Dimana komunikasi tersebut dapat bersifat persuasif, yang bisa mempengaruhi perilaku orang lain.

Komunikasi dapat di lakukan dengan berbagai cara, baik secara verbal (dalam bentuk kata-kata,  lisan atau tulisan) ataupun nonverbal (tidak dalam bentuk kata-kata, sebagai contoh melalui tingkah laku, gambar-gambar dan bentuk lainnya yang mengandung arti. Selain itu komunikas juga dapat di lakukan secara langsung dan tidak langsung. Yang di maksud komunikasi tidak langsung adalah suatu penyampaian pesan yang di lakukan lewat perantara seperti melalui surat kabar, majalah, radio, dan lain-lain.
Berikut adalah tujuan komunikasi :
1.     dengan kita berkomunikasi yang baik dengan orang lain,  kita dapat dapat dikenal oleh banyak orang dan begitu juga sebaliknya, kita dapat mengenal banyak orang.
2.     adanya perubahan sikap (atitude change), dalam hal ini yang di maksud adalah proses penyampaikan pesan yang efektif yaitu dapat mempengaruhi orang lain dan berusaha agar orang bersikap positif sesuai dengan keinginan kita.
3.     perubahan pendapat (opinion change) yaitu komunikasi yang berusaha menciptakan pemahaman, pemahaman yang di maksud adalah kemampuan memamahami apa yang telah di sampaikan komunikator
4.     perubahan perilaku (behavior change) yaitu untuk mengubah perilaku maupun tindakan seseorang.

Kamis, 23 Januari 2014

kepemimpinan yang efisien



1.   Untuk mempersiapkan dan melaksanakan dengan efisien maka saya harus mempunyai sikap kepemimpinan.
Sejak lahir, setiap orang sudah mempunyai bekal genetik untuk di cetak menjadi pemimpin. Contoh nya orang yg lahir dari golongan darah biru, maka ia akan menjadi pemimpin karna faktor keturunan nya, ia akan menguasai kekuasaan yg di kuasai oleh orang tua nya dalam kurung ia akan meneruskan nya.
Selain dari faktor genetik, pemimpin juga bisa di cetak dari proses sosial (seleksi alam) baik melalui lingkungan, tempat tinggal, sekolah, organisasi, pekerjaan.
Yang di jelaskan dari teori ekologi ini adalah seseorang hanya dapat berhasil apabila memiliki bakat sejak lahir yang di kembangka lewat lingkungan dan pendidikan.
Untuk menjadi agent of change and development, pemimpin harus mempunyai sikap pemimin yang berkarakter, yaitu :
1.     Penentuan tujuan
Dari awal, seorang pemimpin harus tau memastikan semua anggota organisasinya tau maksud dan tujuan organisasinya. Selain itu setiap organisasi mempunyai visi dan misi dalam organisasi nya, maka itu lah yang menjadi tantangan buat pemimpin untuk merealisasi kan tujuan yang sudah di canangkan.


2.     Komunikasi

Seorang pemimpin haru mempunyai komunikasi yang baik dengan para anggotanya. Semua keputusan, informasi atau berita apapun yang di buat oleh top management terkait dengan kebaikan organisasi nya harus di komunikasi kan dengan baik kepada para anggota nya. Pemimpin biasa mengomunikasikan sesuatu kepada anggotanya tentu sudah biasa menggunakan media email, notes, chat groups, atau internal communication tools lainnya. Dan bagi pemimpin yg efektif, media itu saja tidak cukup. Karena tidak semua anggota nya mau membaca, kalaupun membaca belum tentu semua nya mempunya pemahaman yang sama. Maka pemimpin yg efektif itu harus menyikapi nya dengan man to man communication. Dia akan menemui langsung anggotanya untuk menginformasikan segalanya secara langsung dan memastikan apakah setiap anggota nya memahami atau tidak apa yang sudah di jelaskan nya.
3.     Kepercayaan
Komunikasi yang efektif didasari dengan adanya saling percaya antara pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi tersebut yaitu antara leader dengan bawahan nya. Penentuan arah tujuan organisasi sudah di buat, kemudian dikomunikasikan dan komunikasin ya di bangun di atas kepercayaan. Prinsip ini sangat dipahami oleh pemimpin yang efektif.
4.     Akuntabilitas (pertanggungjawaban)
Banyak pemimpin yang gagal dalam menjalankan proyek karna melalaikan dasar ini. Hal ini tidak dimaksudkan untuk mencari orang yang siapa yang bersalah dalam organisasi, tapi ditujukan untuk menuntut pertanggung jawaban dari semua orang yang terlibat dalam organisasi tersebut.  Dari prinsip ini lah akan timbul kaedah check-list yaitu semua anggota merasa diawasi sehingga setiap saat mereka terpacu untuk memberikan yang terbaik. Kalaupun suatu saat mereka ‘bisa saja’ merasa tidak diawasi, kinerjanya tetap bisa mengutamakan yang terbaik karena mereka juga akan mempertanggungjawabkan pekerjaannya tersebut kepada atasannya.